2011

Damn !
Akhirnya saya kembali juga ke rumah lama saya ini. Menyenangkan bisa kembali menulis disini, seperti kembali menulis dengan semangat muda didalam tubuh yang semakin menua ini.

Apa kabar semua ?

Apa kabar godzilla hijau ?
Apa kabar si petir kuning?
Apa kabar si burung-burung biru ?
Apa kabar si robot merah ?
Apa kabar layout putih dan garis-garis merah ?
Terima kasih selama ini sudah menjaga rumah ini, dan maaf jika saya sudah lama tidak datang membawa isi-isi dan teman baru disini.

Banyak cerita yang terlewatkan dan tidak sempat diabadikan disini. Seperti biasa, waktu tetap saja terburu-buru meninggalkan semua kejadian dan menjadikannya sebagai kenangan.
dan sayangnya, saya sedang tidak punya banyak cerita saat ini.

Dan selama bulan-bulan ini, saya tidak berhenti menulis kok, saya tetap menulis, yah bisa dibilang di rumah baru saya, gilangkr.tumblr.com . Bagaimanapun, saya sepertinya lebih memilih mati daripada harus berhenti menulis.
Silahkan mampir kesana, lihat-lihat dan sedikit membaca tulisan-tulisan saya.
Well, sepertinya sekian dulu saat ini.
Masih ada ratusan cerita dari saya, masih ada ribuan ide yang belum saya tunjukan
tapi untuk saat ini, cukup ini dulu.

Oya, bagaimanapun rumah pertama ini akan tetap jadi rumah favorit saya. Selamanya.


TERIMA KASIH

He is already gone. .

Adiktif atau kecanduan terhadap sesuatu pada dasarnya adalah suatu hal yang merugikan. Kita terikat pada ketergantungan dan rasa butuh yang berlebih sehingga ketika kita tidak mendapatkannya, kita bisa kehilangan kontrol diri, mental jatuh, kesakitan,gila, atau bahkan mati.
Dan sayangnya,hal itu terjadi pada saya. Iya, saya memang seorang pecandu, saya seseorang yang adiktif terhadap My Chemical Romance. MCR bagi saya semacam candu. MCR seperti narkoba bagi saya. Mereka memberi rasa nyaman dan percaya diri. Dan yang lebih lagi, mereka memberi saya tempat untuk bisa diterima dan dimengerti. Mereka semacam dopping bagi saya. Dengan mereka saya menjadi lebih semangat, bebas, ekspresif, dan benar-benar menjadi saya. MCR semacam Inhaler untuk para penderita asma bagi saya. Mereka memberi kesegaran dan sesuatu yang baru, yang memacu saya untuk terus mengasah ide, membebaskan pemikiran, berekspresi, dan berani mengambil resiko.
Dalam kasus saya, MCR memang sepertinya tidak membawa dampak buruk bagi saya, karena dengan mereka saya menjadi pribadi yang lebih baik. Namun seperti yang saya katakan, segala yang adiktif itu punya sisi negatif. Dan saya sendiri sedang merasakan efek samping yang begitu buruk saat ini.
Drummer MCR, Bob Bryar, he just left the band.
Memang bukan apa-apa bagi anda, tapi bagi saya, itu cukup untuk membuat saya gila dan memaki setiap orang yang ada didepan saya. mengetahui bahwa sesuatu yang saya percayai, suatu pedoman saya harus berubah dan berganti, itu semacam mimpi buruk yang bahkan saya tidak akan pernah siap untuk hadapi.
Dalam hari-hari ini saya merasa kosong. Ada satu ruang yang ditinggalkan, yang ikut berdampak pada ruang-ruang lainnya. Saya tidak lagi bisa seperti dulu. Setiap kali saya tertawa atau gembira, dalam beberapa detik ada perasaan yang seakan mengatakan "He has gone, he has gone" dan secara tiba-tiba perasaan senang dan gembira tadi runtuh menjadi bukan apa-apa. Ketika saya mendengar lagu MCR, sebelumnya saya selalu tergila-gila dengan musik mereka, namun siang tadi saya memilih mengganti channel ketika saya mendengar lagu MCR di radio, ada semacam rasa aneh saya rasa. Saya bahkan kehilangan semangat dan mulai bersikap seadanya pada ITB, Paris, atau mimpi-mimpi lain saya. Saya merasa tertekan dan terpojok tanpa ada sesuatu. Dan saya seperti hidup kehilangan arah.
Saya ingin marah, saya ingin memaki, saya ingin menangis, dan saya ingin berteriak, tapi pada siapa? Apa ada yang peduli ? Tidak !
Kalian tidak tau rasanya diselamatkan oleh musik. Bagi sebagian orang, musik itu hiburan. Tidak perlu perhatian lebih, atau fanatisme, atau segala hal lain yang terkesan hiperbolis. Bagi kalian, saya memang freak. Terlalu tergila-gila pada sesuatu yang kurang penting, dan sebagian menanggap remeh saya, dan saya tidak akan ambil peduli tentang komentar anda.
Dulu, saya pernah sekedar membayangkan apabila MCR akan terpecah, hanya sesaat, lalu saya segera melupakan. Namun beberapa hari lalu, saya mendengar kabar, yang memang benar-benar nyata.
Saya tidak peduli sejago apa pengganti bob nanti, bagaimanapun saya tetap akan jauh, jauh, jauh lebih menyukainya. And MCR will never be the same without him.
saya merasa kosong. Saya kehabisan ganja, saya kehilangan inhaler, saya merasa depresi dan tertekan. Dan saya kembali seperti saat saya masih bocah dulu, rapuh.

We Will Miss You, Bob Bryar

Buon Compleanno, amore !

Hari ini, Nurdita Rahmadani dan Ibu saya berulang tahun. Sebenarnya saya sudah menyiapkan ini sebagai hadiah, namun sayangnya printer ngadat mengacaukan semuanya,saya sudah mencoba memperbaiki hingga pukul 3 pagi, tapi percuma.
Hingga akhirnya saya memutuskan option B. Mengupload, dan menampilkannya diblog ini.

So dita, Here's your birthday present from me : DOWNLOAD !

Thank you, hope you enjoy it, and Happy Birthday !!

Menjatuhkan Sebuah Nama

Banyak anak-anak SMA angkatan 2007 saat ini sedang sibuk menentukan kemana arah lari hidup mereka. Sebagian memilih seadanya, sebagian mencoba semuanya, dan sebagian masih ragu-ragu dan belum berani memilih.
Saya sendiri, sejak 2 tahun lalu, saya memang sudah memantapkan diri untuk menantang Institut Teknologi Bandung, dan saya tidak punya rencana sedikitpun untuk merubah arah. Tidak ada alasan khusus mengapa saya ingin kesana, saya hanya ingin.
Saya tau ITB adalah salah satu institut terbaik di Indonesia ini, tapi saya tidak terlalu ambil peduli tentang hal itu. Satu-satunya alasan utama ingin mendapatkannya adalah karena dialah yang pertama kali menarik perhatianku. Kira-kira pada libur kenaikan kelas X ke kelas XI, dimana saya menghabiskan pagi sambil minum secangkir milo panas, seraya membaca koran pagi. Dan kebetulan hari itu, tercetak tebal tulisan ”ITB : Institut Terbaik Bangsa”. Dan di pagi itu, ITB seakan memamerkan segala keanggunan dan kemegahannya kepada saya, seakan mecibir saya sambil berkata ”Saya sekolahan elit, mana bisa kamu seenaknya ingin menambang ilmu dari saya.”,dan saya pun merasa tertantang. Setelah sekian lama mendengar isu bahwa si elok ITB ini begitu tangguh, dengan segala kerasnya persaingan, dengan berbagai tekanan lain, saya pun memantapkan untuk mencoba menjatuhkannya.
Saya tidak peduli kata orang bagaimana bagus ITB itu, saya tidak terlalu memikirkan semudah apa lulusan ITB mendapat kerja nanti, saya tidak terlalu memusingkan sedalam apa saya mencuri ilmu di ITB disana nanti, karena untuk saya, semua ini tentang harga diri. ITB yang pertama kali menantang saya dan saya dengan senang hati menerimanya. Ini tentang harga diri, karena saya benci untuk kalah, atau bahkan untuk gagal.
Tentu saya tidak bisa hanya bermodal omong kosong untuk menjatuhkan ITB. Perlu amunisi lengkap dan koleksi senjata yang cukup untuk melawannya. Dan untuk itu, saya jatuh bangun sekolah, les, dan belajar siang malam, 7 hari seminggu. Jujur, saya adalah orang yang suka menganggap banyak hal sebagai tantangan, dan saya tidak pernah mendapat tantangan sebesar ini, harga diri dan segalanya saya pertaruhkan, dan saya merasakan begitu besarnya tekanan, dan yang saya hanya bisa lakukan adalah belajar habis-habisan. Menyerah? Mengeluh pun saya tidak sudi !
Tentu perlu campur tangan Tuhan untuk membantu saya menjatuhkan ITB. Terus berdoa dan jangan padam ambisi adalah apa yang benar-benar saya pertahankan. Terus saya berdoa, benar-benar berdoa, menggumam dalam hati, menyampaikannya pelan agar Tuhan pun sudi mendengar. Meskipun saya pun tau, bahwa Tuhan sedang duduk disamping saya saat saya menulis ini, tersenyum dan terkekeh melihat saya berdoa disetiap harinya. Karena Tuhan memang ada dimana-mana.

p.s : Jika Kau baca tulisan ini, Tuhan, sudilah kau berikan sedikit tetes ilmu , rizki, dan ridhoMu, karena hanya lewat anggukan setujuMu aku bisa berlabuh di kampus ilmu, Institut Teknologi Bandung.

Terbang Tenggelam.

Terkadang saya menyadari seberapa jauh musik Indonesia telah kehilangan arah. Begitu banyak band-band baru yang muncul, berkostum dan atribut uptodate, berdandan trendi, dengan berbagai pernak-pernik khas anak muda sekarang(bahkan beberapa berpenampilan norak untuk menarik perhatian), juga terkadang, mereka menganggap penampilan mereka itu musik rock. Apa mereka lupa kalo musik yang mereka bawa itu musik melayu yang mendayu-dayu? Tidak ada passion dlam lirik mereka, tidak ada campuran emosi atau semacamnya, hanya asal menyusun kata , menyanyikan dengan nada yang sama, dan tenar jadi artis hanya dengan satu lagu.
Scene musik seperti ini diperparah dengan para penonton yang kampungan. Mereka rela mengganti kaosnya dengan kaos iklan produk, berdiri sambil melakukan gerakan tangan atau menari sesuai arahan produser, gak lupa dengan berbagai pernak-pernik trendi lainnya. Dan parahnya, stasiun-stasiun TV nasional pun menyediakan acara musik semcam itu, dan tidak berencana menambah kualitas mereka. Dan semua semakin hancur karena semua band-band pendatang baru selalu lipsync. Ini ironis Indonesia !
Aura musik yang terus tumbuh sejak munculnya koes plus, godbless, Iwan fals, slank, lalu ke era Sheila on 7, Padi,Jikustik, lalu muncul peterpan, nidji, dan ungu, harus mengalami degradasi yang jauh ketika mulai muncul band tenar amatiran, yang tidak pernah memainkan lagu lain selain hits mereka(itu pun lipsync.) Mereka yang menggunakan embel-embel "band" diakhiran nama grup mereka semakin marak, menjadi semacam tren. Mereka pasti mengangkat latarbelakang sebagai dan orang yang tidak mampu dan kesulitan usaha mereka kedapur rekaman untuk menarik simpati masyarakat.
Mereka tidak peduli apakah mereka punya materi musik yang cukup berpengaruh pada perkembangan musik. Karena yang mereka pedulikan hanya satu : UANG.
Mereka pikir, hanya perlu sebuah single hits untuk meraup jutaan rupiah, sehingga tak perlu repot-repot pusing bikin banyak lagu berkompeten untuk album mereka, cukup seadanya. Ini ironis Indonesia !
Memang masih ada beberapa yang cukup punya nilai, semacam drive, the changchuters, dan RAN. mereka beberapa yang memang pantas dianggap musisi. Mereka punya cukup nilai lirik, penampilan atraktif, dan setidaknya tidak lipsync. (Vierra? apa pantas band yang cuma nyanyi live tanpa lipsync beberapa kali dalam setahun penampilan mereka disebut musisi? Bahkan majalah hai menobatkan Vierra band tercupu 2009.)
Juga banyak musisi hebat lainnya yang tidak tersorot kamera, semacam PeeWee Gaskins, Efek Rumah Kaca, dan Adhitia sofyan. Dan beberapa indie label semacam SKJ'94, AiB, Somethin About Lola, Season, dan banyak lainnya yang masih enggan tampil ke permukaan. Musik indonesia masih punya banyak harapan. Tinggal masyarakat yang menentukan, ingin terus tenggelam, atau terbang tinggi di atas permukaan.

Something to believe in

There's always a time for everyone in their lives where all bad things seem to happen at once, and so do I. And a band called “My Chemical Romance” are the only one who can understand me the way I want to be understood. I love them so much for helping me by letting me be me, something I was never able to do before I found them.
They taught me it was okay to be different. In my hard time, while everyone else give me some bullshit advices, blaming me, and keep pushing me to the edge, they just came and their song were able to scream what I was thinking, but I wasn't able to say. They're really quite inspiring in their own weird way, something in their music and lyric reaches into my heart and makes me happy. Each time I listened to them, they told me a story of hope. Their lyrics and emotion, I feel, are true and the band believes in what they say.
My Chemical Romance gave me something to believe in. Nobody has changed my life so dramatically as they have. They have changed me in a way I never thought I could change. MCR's songs and lyrics speak to me in a way that no other band's do, I felt like the lyrics were something I could easily relate to. I can listen to their music anytime and it always makes me feel better. they turned me in the right direction
I reached a point where I was unhappy with many things in my life, and one of my escapes was them.
I know that people (including you) don't understand what MCR is really trying to do. Its an MCR thing you would never understand. for me they are my heroes, now I might be obsessed with them, but here I am, alive, writing this post, and unafraid to keep on living.


Thank you MCR !

Because the camera doesn't lie. .







  © This fucking template customized by Gilang Kharisma Rahman 2009

Pride of an MCRmy