Tampilkan postingan dengan label Theatre of Dream series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Theatre of Dream series. Tampilkan semua postingan

Some Questions and Answers about Theatre Of Dreams

Mungkin buad yang uda pernah baca blogku tau yang namanya Theatre of Drams. Dan buad yang ngikutin cerita itu, mungkin punya beberapa pertanyaan tentang ini itu. Di posting ini, aku coba buad jawab beberapa pertanyaan umum yang mungkin ada di pikiran kalian.

1.) Theatre of Dreams tu apa sih?

Theatre of Dreams adalah cerita bersambung yang ditulis sendiri sama Gilang Kharisma dan di posting ke blognya (blognya-sigilang.blogspot.com) biar bisa dibaca sama banyak orang. Sampe posting ini diterbitin, udah ada 5 cerita dari serial ini. Yang pertama adalah “The Beginninng”, terus yang kedua “Jakarta, The Old Friend”, habis itu “The Boy Who Had A Dream”, cerita ke-4 judulnya “Children of Heaven”, dan yang ke-5 judulnya “No Place Like Home.”

2.) Inti ceritanya gimana?
Pino sama Syena, 2 anak remaja yang memutuskan buad pergi ke Paris dengan alasan sekedar untuk pembuktian pada diri sendiri bahwa setiap orang pasti punya mimpi dan pantas untuk diperjuangkan. Alasan konyol memang bila untuk jatuh bangun dalam perjuangan mereka untuk bisa tiba di Paris. Tapi lewat semua ini aku cuma pengen menekankan pada semua pembaca, bahwa jangan pernah meremehkan, menertawakan, atau membodohi mimpi atau cita-cita siapapun. Karna jika bukan kita sendiri yang memperjuangkan mimpi-mimpi itu, siapa lagi.

3.) Syena sama Pino kayaknya mereka bisa bebas dan deket banget, sebenernya hubungan mereka tu kayak gimana sih?
Pino sama Syena adalah sahabat yang amat sangat dekat. Mereka brteman sejak balita karena ayah Syena adalah salah satu rekan kerja terdekat dari ayah si Pino. Ketika kecil, mereka sangat sering bertemu karena ayah mereka masih sama-sama mulai merintis karir. Hingga pada saat SMP kelas 1 , Syena yang pada mulanya menetap di Bandung dan masih sering berkunjung ke Semarang ( Tempatnya si Pino) harus pindah ke Palembang . Sejak saat itu mereka jarang bertemu, tapi mereka masih tetap merasa akrab meski jarang berkomunikasi. Dan satu lagi yang penting, mereka memang deket banget, dan rasa sayang ato perhatian jelas aja ada, secara udah dari bayi mereka deket, tapi mereka enggak pacaran.

4.) Siapa sih Syena yang sebenernya? Cuma khayalan ato beneran temen asli?
Syena dicerita ini aku ambil atau adaptasi dari salah satu temen friendsterku dari jaman SMP dulu. Namanya Syena Damara. Aku gak deket sama sekali sama dia. Kontak-kontakkan juga jarang. Kita Cuma sebatas ‘kenal’ aja. Jujur, aku juga belom kasih tau dia tentang cerita ini, semoga aja dia gak marah kalo tau. Dan semua ceritaku ini gak ada hubungannya sama realita kita masing-masing. (Buad Syena : Thanks for being one of my greatest inspiration.)

5.) Terus kenapa si Syena yang dipilih buad cerita ini ?
Pertama ,karena Syena itu nama yang bagus, iya kan? Aku sempat mikirin berbagai macam nama , such as Bian, Dita, Elena, dan banyak lainnya, tapi aku gak tau kenapa, aku bener-bener dapet passion dan feel dari cerita ini cuma di nama Syena. Jadi berhubung aku kenal sama Syena yang asli, aku adaptasiin namanya dan minta salah satu fotonya (moga-moga dia gak marah, amin!) buad jadi tokoh perempuan utama di Theatre of Dreams.

6.) Kenapa yang jadi tujuannya Paris ?
Jawabannya simpel. Soalnya banyak orang yang menggantungkan mimpinya di City of Love ini. Lagian, Paris juga salah satu kota terbaik dan termegah di dunia.

7.) Syena sama Pino maen kemana-mana berdua, apa gak dimarahin ortu-nya?
Mungkin kalo di kehidupan nyata memang dimarahin. Tapi disini, Syena sama Pino uda deket dari bayi dan ortu mereka udah kenal baik sama masing-masing dari mereka berdua. Jadi mereka cuma bisa coba buad percaya kalo anak-anak mereka gak bakal ngelakuin hal bodoh dan ngerugiin diri mereka sendiri.

Mungkin cuma itu yang bisa aku jelasin sekarang ini, nanti kalo ada pertanyaan lagi, insyaallah bakal aku jawab. Jangan lupa, kalo cerita Theatre of Dreams tu murni imajinasiku, gak ada hubungannya sama realita secara umum sama kehidupanku ato Syena. Jadi, tetep baca Theater of Dreams yang cuma ada diblog ini sampe tamat nanti.

THANK YOU FOR READING MY BLOG !!!

Theatre of Dreams : No Place Like Home


Hari sudah begitu gelap. Setelah delapan jam dari ibukota, akhirnya kita tiba di Semarang pukul 11. Dan disini begitu sepi.
“Sudah lama aku tak mengunjungi kota ini.” Syena berkata. Wajahnya tampak kisut, sepanjang perjalanan tadi dia tidur. Sedangkan aku mencoba menikmati film yang diputar di kereta.
“Ya, the old town.” Aku menjawabnya.
“Aku lapar.” Dia berkata sambil berjalan keluar dari Tawang.
“Sepajang hari kau tidur, dan sekarang lapar. Mengaggumkan.”
“Ya, itulah perempuan.”
“Tidak menurutku, kau bukan hanya sebatas itu.”
“ Maksudmu?”
“Kau berbeda dari mereka. Yah, mereka pada umumnya.”
“ Lalu?”
“Untukku, kau sedikit lebih berharga daripada mereka.” Aku menjawab sambil menatapnya tipis. Dan dia tersenyum.
“Mau kemana kita?” Tanyanya.
“ Makan.”
“Dimana?”
“Simpang lima. Ada beberapa pilihan disana.”
“Bagus. Ayo kesana.”


*****


“Damn, I’m so full.” Dia berucap. Syena makan banyak, walaupun tak sebanyak aku.
“Berapa semua?” Tanyaku.
“Biar aku selesaikan.” Dia berdiri menuju si penjual. Aku sendiri beranjak memakai sepatuku.
Semarang. 16 tahun lalu aku lahir dikota ini. Begitu banyak cerita dari kota ini. Kota tua yang panas. Terkadang membosankan, but just like everybody else said, there's no place like home.
“Pulang?” Dia duduk disebelahku seraya mengenakan sepatunya.
“Ya, sekarang.”
“Tunggu sebentar.” Dia sibuk mengikat tali sepatunya, tapi aku tak menghiraukan. Aku meninggalkannya dan berdiri di tepi jalan, menunggu sesuatu yang bisa membawaku pulang. Sebuah kata yang membuatku begitu merasa nyaman , pulang.


*****


“Aku pulang.” Aku menyapa rumahku. Sekitar pukul setengah 2 pagi.
“Kau ijin berlibur 2 minggu, baru 3 hari sudah pulang. Ada apa?” Tanya mamaku, aku sendiri heran kenapa dia masih terjaga.
“Ada urusan sebentar.” Jawabku sambil bergegas naik ke atas, ke kamarku.
“Apa kabar, Syena?” Tanya ibuku padanya.
“Selalu baik , Bunda.”
“Ayah dan Ibu?” Lanjut ibuku.
“Yah, mereka sedang sibuk menyiapkan pesta ulang tahun perkawinan mereka. Bukankah mereka juga mengundang bunda?”
“Tentu, sekarang istirahatlah , jangan keras kepala seperti si pino, dia memang sulit diatur. Kau juga harus sabar padanya.”
“Selalu.” Syena lalu segera menyusulku ke atas.

“ Bagaimana besok?” Dia bertanya seketika dia masuk kekamarku. Aku sendiri sedang mengeringkan mukaku dengan handuk setelah cuci muka tadi.
“Kita istarahat beberapa hari disini, sampai semuanya siap.”
“Kapan semuanya siap?”
“Tunggu saja. Dan cuci mukamu dulu, debu Jakarta masih tersisa di hidungmu.”
“Kau sendiri?”
“Aku akan tidur setelah selesai menata meja berantakan ini.” Aku menunjuk mejaku. Kabel disana-sini, semua barangku ada diatas meja itu.
“Baiklah, nite.”
“Good night.” Jawabku sambil menutup pintu kamar.


*****

Aku tidur lebih dari 5 jam. Lebih dari pukul 7 pagi aku terbangun. Aku segera turun, mengambil secangkir susu coklat panasku, lalu berjalan menuju teras mencari sedikit udara pagi. Disana sudah ada Syena terduduk dilantai sambil membaca koran hari ini. Di dekatnya ada secangkir susu seperti punyaku yang hanya tinggal sedikit. Aku duduk di kursi, tak jauh darinya.
“Apa yang kau baca?” Aku bertanya. Biasanya akulah yang membaca koran pertama kali di setiap pagi, tapi hari ini, perempuan ini mendahuluiku.
“Banyak. Dunia tak pernah berhenti kehabisan peristiwa.”
“Tentang Paris?”
“Tak satupun.” Dia memberikan Koran itu kepadaku lalu berdiri.
“Siang nanti, aku ke Gramedia.” Ucapku seraya menerima korannya.
“ Kinokinuya?” Tanyanya ragu-ragu.
“Tak ada kinokinuya disini, Gramedia mungkin yang terbaik.”
“Untuk apa?”
“Aku butuh banyak info tentang paris dan berbagai alternatif untuk kesana.”
“Kau benar. Jika kita beli tiket Jakarta-Paris akan terlalu mahal. Orangtua kita tak akan mengijinkannya, atau paling-paling, salah satu diantara mereka akan ikut.”
“Ya, dan yang lebih penting..”
“Aku tau.” Syena tiba-tiba memotong kata-kataku.
“Apa?” Aku penasaran.
“Yang kau inginkan adalah petualangan. Perjalanan Semarang-Paris yang menakjubkan. Bukan sekedar terbang dari Jakarta menuju Paris menggunakan besi bersayap. Yang kau inginkan sebuah pengalaman dari perjalan itu, bukan sekedar tiba di kota itu, lalu pulang. Kau mencari suatu perjalanan yang berharga.” Jelasnya santai, namun terlontar begitu pasti.
“Brilliant.” Jawabku singkat.
“Oke, ingatkan aku nanti.”
“Ya.” Aku pun mulai membaca koranku, dan Syena pergi meninggalkanku berdua dengan pagiku.

Theatre of Dreams : Children of Heaven

Pagi ini Jakarta gelap. Terkurung oleh sekumpulan awan mendung hitam yang mengambang di langit ibu kota. Beberapa bocah-bocah berlari bersaing dengan derasnya laju kereta. Syena sudah terjaga lebih pagi. Dia sedang bercanda dengan anak penjual rokok di samping escalator. Perempuan itu tak kenal takut, si keras kepala tetapi ramah. Dia melihatku, menggendong si anak dan menghampiriku.
“ Kau butuh lebih banyak starbucks.” Ucapnya.
“ Starbucks tak kan membantu, aku bisa bangun sesukaku.”
“ Ya, semoga.” Jawabnya tersenyum. Meledekku sepertinya.
“ Kembalikan anak itu, kita segera berangkat.” Aku berdiri sambil merapikan tas dan jaketku. Dan dia berlari mengembalikan si anak, lalu bergegas menghampiriku lagi.
“ Namanya Davis. Di ambil dari nama pemain bola di inggris.” Dia berkata sambil memungut tasnya.
“ Persetan.” Aku menjawab, dan dia membalasnya dengan tertawa.
“ Mau kemana kita?”
“ Entahlah.”
“ Apakah kau masih tertidur?” Tanyanya tiba-tiba sambil menatapku. Seakan-akan ada yang salah dariku. Aku sendiri kaget mendengar pertanyaannya.
“ Kau buta ? Tak kah kau lihat mataku sudah terbuka dan saat ini sedang menatapmu?”
“ Tapi ini bukan kau, kau pasti masih sedang bermimpi.”
“ Maksudmu?” Aku heran.
“ Pino tak pernah ragu dalam sesuatu, tapi baru saja kau berkata bahwa kau tak tau mau kemana. Apakah kau masih bermimpi?” Tanyanya. Mendengar itu aku pun terdiam sejenak. Mengikat tali sepatuku. Lalu bangkit menjawabnya.
“ Semarang. Kita harus kesana.” Dan dia tersenyum.
“ Kau menggantungkan mimpimu jauh di puncak Eiffel, dan kau memilih Semarang untuk mengawalinya? ”
“ Ya, kita akan memulai semuanya dari sana.”
“ Baiklah. Aku tau kau tau apa yang kau pilih.” Dia berdiri, bersiap untuk pergi.
“ Kereta berangkat pukul berapa?” Tanyaku.
“ Entahlah, kita ke loket.” Dia melangkah meninggalkanku. Dan aku pun membuntutinya beberapa langkah dibelakangnya.

*****


Kereta berangkat pukul 3 sore. Masih tersisa banyak waktu untuk di habiskan di kota ini. Berjalan di tepi jalan yang riuh, syena tetap riang, sedangkan aku hanya diam. Mengamati tiap kebusukan kota ini.
“ Apa itu disana?” Dia menujuk kerumunan di bawah jembatan layang, tempat pangkalan truk-truk. Terdengar riuh rendah di sana. Entah apa.
“ Bukankah final champions masih lama?” Dia bertanya dengan wajah lugunya.
“ Tentu saja itu bukan final champions.” Tanpa mendengar selesai kata-kataku. Dia sudah berlari menghampiri itu. Dan aku pun menyusulnya. Dan disana memang bukan acara champions atau semacamnya. Disana tempat tinggal kaum homeless dan gelandangan. Mereka tidur disela-sela truk yang parkir. Para anak-anak bermain di ruang sempit antara tiap-tiap truk. Mereka melompat dari 1 atap truk ke truk lainnya. Meraka mengoper bola dari kolong-kolongnya. Mereka gembira.
Tak perlu waktu lama untuk Syena berbaur bersama mereka, dan beberapa menit kemudian dia berhasil mengumpulkan mereka semua, sepertinya ia akan menceritakan sebuah dongeng yang ajaib. Dan seperti biasa, dia begitu antusias. Dan aku pun hanya duduk disalah satu truk, mengamatinya dari jauh.
Dia begitu menakjubkan. Dia bisa berbaur dalam berbagai kondisi sosial yang berbeda. Tak jarang dia duduk anggun bagaikan putri menggunakan gaun hitam yang mempesona saat makan malam mewah bersama para pejabat tinggi teman-teman ayahnya. Dan dia juga yang merapikan blazerku jika berantakan di pesta-pesta besar para pengusaha sukses. Tapi di lain sisi, dia tak ragu untuk bercanda bersama pengamen-pengamen jogja dan makan malam bersama mereka. Dia tidak takut berdiskusi bersama kelompok anak cerdas calon ilmuwan dari ITB. Dia tak canggung berteman dengan para supporter bola yang tidur di gerbong kereta tak terpakai Dan saat ini dia sedang berbagi mimpi bersama puluhan anak-anak jalanan disini. Dia bercerita kepada mereka seakan-akan mereka adalah adik kandungnnya.
“ Kalian lihat kakak yang duduk disana?” Dia menunjukku. Dan anak-anak tadi segera melihatku.
“Dialah yang berjanji kepadaku akan membawaku ke puncak Eiffel dan melihat dunia. Anak laki-laki itulah yang menunjukan kepadaku seberapa besar kekuatan mimpi dan cita-cita kita bisa merubah takdir.” Dia berkata sambil dikelilingi oleh anak-anak itu. Dan mereka begitu terkesan pada sosok perempuan dihadapan mereka. Mungkin juga padaku.
“Syena, ayo cepat. Aku tak mau kereta itu pergi tanpa kita.” Aku mengajaknya pergi setelah melihat kearah jam yang ada di handphoneku. Dia menatapku, lalu berdiri. Aku segera turun dan melangkah pergi. Beberapa langkah aku pun berhenti, aku berbalik dan melihat Syena sedang sibuk membagikan biscuit pada mereka.
“ Hai kalian” Aku berteriak, dan mereka segera menatapku, sebagian ada yang takut.
“ Jangan pernah ragu untuk menjadikan dunia ini sama seperti dunia yang kalian impikan di dalam mimpi kalian. Karena dengan begitu, segalanya akan menjadi lebih mudah dan menyengangkan.” Aku berucap sambil tersenyum kepada mereka. Syena pun balas tersenyum kepadaku. Dan aku pun berpaling dan kembali melangkah meninggalkan mereka. Syena melambaikan tangan pada mereka sembari tertawa, lalu bergegas berlari menyusulku. Dan anak-anak itu dengan gembira menatap 2 jagoan mereka melangkah pergi sambil menggenggam erat biskuit-biskuit tadi.

Theatre of Dreams : The Boy Who Had A Dream

Matahari tlah beranjak dari tempatnya. Dan aku pun tlah meninggalkan Senayan. Kita terus berjalan melewati jalan sudirman, dan terus menembus Bundaran HI menuju pusat. Dan akhirnya dihadapanku berdiri sosok putih nan sombong. Berdiri tegak membelakangi senja. Seakan menatapku dengan angkuh, menyuruhku untuk berhenti memandanginya. Monas. Pusat dari ibu kota.
“Kau lihat itu? Sosok yang menjadi lambang culasnya Jakarta” Dia berkata sambil terus membawa eskrim ditangannya yang sudah habis setengah. Meleleh disana-sini. Belepotan.
“Bangku itu.” Aku menunjuk sebuah bangku di sudut taman, tepat disamping sebuah lampu. Dia berlari kesana dan duduk mendahuluiku.
“Perwujudan dari kehormatan Jakarta ada didepan kita. Tak kah kau ingin melihatnya lebih dekat? Kita bisa kesana cukup dekat hingga kau mampu menyentuhnya.” Bangunan itu sudah cukup tua tapi berlagak hebat. Disekitarnya ada beberapa orang yang berlarian kesana-sini, sebagian menari didepan kamera, dan sisanya berteriak tak karuan. Berisik.
“Kehormatan apa. Itu hanya sebatas bangunan tentang pemujaan harta.”
“Harta?”
“Ya. Tak kah kau lihat emas yang berada dipuncak dan terus disorot itu. Itu selayak kita selalu meninggikan harta dan menjadikannya idola.”
“Kau benar.”
“Ya, aku selalu benar.” Mendengar jawabku, dia tersenyum. Dan eskrimnya sudah habis. Yang ada tinggal aku, dan Syena.
“Ini hanya sekedar monas, bukan Eiffel.” Ucapnya
“Eiffel?”
“Ya, aku tau kau pasti tau tentang Eiffel” Menghadapi pertanyaan ini, aku terdiam. Bukan karena aku tidak tau tentang Eiffel, tapi karena aku memikirkan sesuatu. Dan aku pun tersenyum.
“Ya, aku tau tentang Eiffel. Dan kita akan kesana.” Jawabku.
“Kau gila! Eiffel bukan berada di Jogja atau Palembang atau Singapore! Eiffel ada jauh di belantara eropa! Di Paris! Yang benar saja!”
“Apa aku terlihat seperti orang gila di matamu?” Jawabku sambil tersenyum memandangnya. Dan dia terdiam sejenak.
“Tidak” Dia berbalik tersenyum padaku.
“Bagiku, kau adalah seorang pemimpi” Lanjutnya sambil mencubit pipi kananku.
“ Dan kau ikut denganku?” Tanyaku, sekedar memastikan.
“Kemanapun kau pergi” Jawabnya. Tanpa ragu, tanpa berpikir.
Aku pun semakin tersenyum., dan kita pun memutuskan tuk beranjak pergi meninggalkan si tugu tua angkuh itu sendiri.



* * * * *



Aku berdua dengan dirinya pada 1 sudut lain di Jakarta, terduduk diam diatas bangku jalan kala malam yang basah menyelimuti kota Jakarta.
“Malam ini, Jakarta milik kita.” Gaung bisik darinya buyarkan anganku. Pukul berapapun aku seraya tak ingin tau, karena saat ini waktu tak akan menggeserku, dan nyala lampu kota ini sudah tak lagi mengganggu.
“Ya, malam ini Jakarta milik kita, hingga di ufuk terlihat pagi.” Kalimatku terucap perlahan untuk menjawab bisik pelan darinya tadi. Di stasiun Gambir ini aku dan dia terduduk tak bersuara. Hanya bercermin pada genangan air yang ada disela-sela parit kotor. Dan dihadapanku hanya ada manusia-manusia tanpa arah yang pergi kesana-kemari di tengah Jakarta yang mulai sunyi.
“Tepat pukul 11” Dia berucap setelah melihat kearah jam bergambar mickey mouse di tangan kanannya.
“Kapan kita akan pergi beranjak dari sini?” Sebuah Tanya terucap dari mulut mungilnya.
“Biar Jakarta mengusir kita, kita tunggu saja.” Jawabku dingin. Dan entah mengapa jawabku tadi membuatnya tersenyum. Manis sekali.
“Kau selalu sama, keras kepala, Tak pernah berubah. Dan itu yang membuat kumengagumimu.” Terucap bait kata-kata diantara tawa kecilnya.
“Persetan dengan rasa kagummu itu. Diamlah, dan nikmati Jakarta malam ini.”
Kututup kalimat-kalimat darinya. Dan kita berdua tertelan dalam kesunyian Jakarta.

Theatre of Dreams : Jakarta, The Old Friend.

Jakarta, pukul setengah 12 siang. Beberapa menit setelah aku menginjak tanah tua Jakarta. Dan kini hanya terduduk di tangga terminal memandangi bocah-bocah kecil yang sibuk berlarian memainkan bola dikakinya. Matahari hari ini benar-benar menjadi raja.
“ Aku bosan disini, mau kemana kita?” Pertanyaan darinya kali ini berhasil mendapatkan perhatianku. Termenung sejenak, aku lekas menjawab.
“Starbucks, kita butuh kopi”
“Oke, dimana?” Tanyanya sambil memungut tas ranselnya, yang sama persis dengan milikku, dan berdiri.
“Senayan”
“Kau masih dihatui memori itu bukan? Beberapa tahun lalu di senayan?” Aku sama sekali tak menanggapinya. Hanya mengemas peralatanku, mengikat tali sepatu, dan berdiri. Dia sendiri nampaknya masih tetap menunggu jawabku. Mengamatiku sambil memainkan bibirnya, seperti bayi.
“Jawab aku.” Dan kali ini dia cemberut.
“ Persetan, ayo berangkat. Aku haus”
“Terkadang kau terlihat seperti setan yang kehilangan sayap, mengerikan.” Ucapnya seraya mengejarku dengan langkah-langkah kecil.


* * * * *


“ Kau lihat, Jakarta semakin pucat. Dan sekarang dia mulai kehilangan awan. Tak ada lagi teduh.”
“Biar saja, semakin lama akan semakin mati.” Jawabku sambil menghisap kopi dan membaca majalahku. Aku sama sekali tak melihat langit yang dimaksud olehnya.
“ Apakah langit ada batasnya? Dari bawah sini, tampaknya sangat dalam dan gelap. Lebih dari laut menurutku, dan aku benci laut.”
“ Kapan-kapan, akan kuajak kau kesana, melihat seberapa jauh langit itu. Jika perlu, kita mampir dibulan, mencari burung kakatua disana.” Aku spontan berkata begitu, karena di majalah itu ada gambar burung kakatua.
“ Hei Pino” Dia memanggilku, pelan. Kali ini, aku berhenti membaca, lalu memandangnya. Sangat jarang dia memanggil namaku, sangat amat jarang. Dan saat itu dia sedang memandang tinggi ke angkasa. Tersenyum, dan matanya terbentuk indah, selayak rubi. Tatap matanya kosong, tapi aku tau dia sedang melihat sesuatu . Dan dia pasti sedang berkhayal tentang sesuatu yang menakjubkan. Dia adalah pengkhayal sempurna.
“ Aku sudah bosan melihat bulan dari bumi, suatu saat nanti aku ingin melihat yang lain. Aku ingin melihat bumi, dari bulan.” Dia berucap sambil terus menatap angkasa. Khayalannya sudah terbang jauh melebihi bulan.
“Ya, kita pasti kesana.” Kali ini aku menjawabnya sambil tersenyum. Aku tau dia tidak main-main dengan ucapannya tadi.
“ Terimakasih.” Jawabnya pelan. Dan aku melanjutkan membaca, sambil terus menghabiskan kopiku.

Theatre of Dreams : The Beginning


Ketika langit masih pucat dan pagi masih enggan tuk berdiri aku telah lama berada disini. Terduduk diatas bangunan radio tua di kota ini. Dan lagi-lagi aku bersamanya, perempuan pengkhayal yang tak pernah kehabisan tawa. Mengamati sudut sepi kota ini disudut kumuh diawal pagi. Berdialog dengan dirinya dengan dinginku, dengan tawanya.
“Sudah lama kita tak bertemu, namun matahari tetap saja sama, pemalas” . Perempuan yang sedari tadi duduk disampingku mulai berbicara. Entah mengapa, dia tersenyum sambil menatap matahari yang mulai bangun.
Syena. Begitu aku memanggilnya. Aku mengenalnya ketika aku tak lebih dari umur 3 tahun, dan sudah lama kita tak berjumpa. Pagi ini seakan menjadi sebuah reuni bagi kita, dan dia sama sekali tidak berubah. Tetap ceria, dan wajahnya tetap sama. Ucapannya tadi sama sekali tak kujawab. Aku tetap diam mengamati matahari.
“Yah, kita tak bisa berharap bangun lebih pagi dari matahari. Dia tak pernah tidur, terus-menerus terjaga.” Dia berceloteh kembali.
“Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Bahkan menidurkan matahari sekalipun.” Kata-kata tadi menjadi kalimat pertamaku dipagi ini. Dan lagi-lagi dia tersenyum. Aku tak melihatnya, tapi aku tau. Dia selalu begitu.
Pagi ini begitu gelap. Hanya beberapa bapak tua yang keluar membersihkan sampah atau menyiram pot bunga. Sisanya masih pulas tertidur. Perkampungan ini begitu sepi. Dari atas atap gedung tua tempat siaran radio ini aku bisa melihat semuanya. Langit yang ungu, dan tak ada apa-apa lagi. Hanya terdengar sayup panggilan Tuhan di pagi hari dari arah selatan.
“Langitnya begitu indah, kau suka langit bukan?” Tanyanya. Dan aku pun tak bermaksud tuk menjawabnya. Hanya diam sambil tetap memandang timur.
“Ya, Langit memang indah , namum tak sampai mengalahkan matamu, aku sungguh suka sorot matamu. Tahukah kau tentang hal itu?” . Lagi-lagi dia bertanya. Dan aku tetap diam saja. Dingin
“Apa yang masih kau ingat tentang kota tua ini? Ingatkah kau bahwa kita pertama kali bertemu di kota tua yang semakin laknat ini?” Tanyanya lagi.
“Ya, aku ingat kota ini. Bandung namanya, hanya itu saja” Jawabku. Dan lagi-lagi dia tersenyum, polos sekali. Sebentar aku memalingkan pandangan ke wajahnya, ia sedang tersenyum sambil menatap matahari. Dan akupun kembali menatap langitku.


* * * * *

Kota ini tetap sama. Penuh dan selalu sibuk. Berada ditengah-tengah keramaian seperti saat ini membuatku sedikit merasa takut. Syena, sama sekali tak peduli. Dia berjalan ringan disebelahku sambil bersiul pelan..

“Aku tidak lapar, pagi ini kita tidak perlu pergi sarapan” Dia berkata sambil tetap mengikuti langkahku. Tanpa kutanya apakah dia lapar atau tidak.
“Akan kemana kita?” Mulutnya seakan tak bisa berhenti bicara.
“ Jakarta, kita akan ke Jakarta .”
“Ah, Jakarta. Sahabat lama, dan sudah lama kita tak berjumpa dengannya.”
“Jangan gila, aku tak pernah menganggap Jakarta sebagai sahabat. Dia munafik.” Dia seakan tak mendengar kata-kataku, semakin sibuk dengan siulnya.
“Aku memikirkan tentang bis, kereta terlalu cepat. . Bagaimana menurutmu?” Tanyanya sambil menyentuh telinagku, aku tak tau apa artinya.
“Ya. Bis, ke Jakarta”
“ Apa yang kita bisa dapatkan di Jakarta?” Seperti biasa, perempuan ini selalu ingin tau. Terus-menerus bertanya, menginterogasi secara halus tepatnya.
“Awal dar mimpi kita ada disana” Jawabku sambil terus memandang kedepan. Mengamati keadaan di terminal kumuh yang berbau hangus. Dan segera memulai perjalanan ke Jakarta dengan sebuah bis biru yang masih sepi..





(Bersambung ke "Theatre of Dreams : Jakarta, The Old Friend")

Prelude of "Theatre of Dream"

Theatre of Dream . sebuah cerita bersambung hasil karyaku yang menceritakan tentang perjalanan 2 remaja pemimpi yang percaya bahwa mimpi sudah lebih dari cukup untuk membawa mereka menikmati hidup dan mendapatkan apa yang mereka inginkan . Bermodal mimpi dan segenggam keberanian dan optimisme mereka mencoba melawan dunia.


Pino. 16 tahun. 171 cm. Ambisius. Cerdas. Keras kepala. Temperamental. Pemimpi. Tidak mengakui adanya kemustahilan dalam hidup. Diam Penyuka langit, cakrawala, dan semua yang gelap. Berwajah sinis Seorang oportunis. Hanya terbuka pada orang-orang tertentu. Tak pernah putus asa.Menganggap syena sebagai partnernya Tak banyak bicara tapi pada dasarnya sangat mempedulikan syena. Tak pernah ragu untuk bermimpi setinggi-tingginya. Pendengar musik alternative rock. Suka menulis puisi. Tak pernah mau menunjukan kekagumannya pada apapun. Bercita-cita menjadi desainer grafis.






Syena. 15 tahun. 156 cm. Ceria, riang, dan selalu tersenyum. Seorang pemimpi dan pemuja hujan. Setia dan Seorang yang sabar. Antusias. Penyuka kartun. Mengagumi pino. Pendengar yang baik. Pengkhayal. Suka berbagai hal yang baru. Sosialis. Terkadang rapuh. Sebisa mungkin tidak ingin menangis. Benci perjalanan air. Humoris. Pendengar musik slow rock dan alternative rock. Bercita-cita menjadi desainer grafis

  © This fucking template customized by Gilang Kharisma Rahman 2009

Pride of an MCRmy